Rabu, 02 Februari 2011

bagaimana seharusnya Pramuka?

Mengenal Pramuka lebih dekat.

Siapa yang tidak kenal dengan pramuka? Sebelum penulis lahir organisasi ini sudah ada dan sampai sekarang organisasi ini masih tetap berkibar di bumi Indonesia. Organisasi yang berbasis pemuda ini memiliki fungsi dalam membangun karakter bangsa. Sejak berdirinya, Pramuka diperuntukan sebagai upaya dalam menggalang semangat nasionalisme.

Pramuka berdiri sejak tahun 1961. Memang sangat amat tua Pramuka berkiprah dinusantara, sejak berdirinya organisasi Pramuka, semua organisasi kepemudaan seperti Kepanduan dan Hizbul Watan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, kemudian disahkan oleh Ir. Djuanda. Sekarang Pramuka atau nama internasionalnya Scout telah berumur hampir setengah abad. Dari dahulu hingga sekarang pramuka masih memiliki pengikutnya.

Sejalan dengan perkembangan dan gelombang globalisasi pramuka mengalami pasang surut. Apalagi pemuda sekarang sudah banyak yang tidak tertarik ikut organisasi pramuka. Fenomena masa kini pemuda lebih senang dengan kegiatan hura-hura, seperti kongkow-kongkow di caffe, games komputer , chatting, dll. Bahkan pemuda jaman sekarang enggan menggunakan pakaian seragam coklat ala pramuka. Yang menurut mereka sudah ketinggalan jaman dan gak gaul.

Gambar diambil dari http//www. Detik Kelahiran Pramuka _ Pramuka.htm

Merosotnya indeks peminat pramuka dikalangan remaja, membuat president Susilo mengajukan konsep Revitalisasi Gerakan Pramuka. Ada tujuh butir yang diajukan President dalam upaya merevitalisasi Gerakan Pramuka yang diupayakan dapat menarik simpatisan lebih banyak pemuda untuk mengikuti organisasi yang berakronim dari Praja Muda Karana (Pramuka).

Sekilas awal perkembangannya

Jejak kelahiran dari organisasi Pramuka sebenarnya diawali dengan dikenalkannya kepanduan yang dibawahkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Sebenarnya kepanduan dunia lahir dari tokoh yang dikenal dengan Lord Robet Baden Powel berkebangsaan Inggris yang memiliki misi untuk melakukan pembentukan karekter nasionalisme di kalangan pemuda di negara yang terkenal dengan sebutan Great Britain (Britania Raya). Sejalannya waktu, niat baik Baden powel membuahkan hasil. Kosepnya yang mengajarkan anak-anak dan pemuda dengan pendidikan non-formal diterima. Konsep Baden Powel diterima di negara-negara tetangga Inggris, tidak terkecuali Belanda. Hingga pada Pada 1910 Argentina, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, India, Meksiko, Belanda, Norwegia, Russia, Singapura, Swedia, dan Amerika Serikat tercatat telah memiliki organisasi kepanduaan.

Belanda membawa konsep kepanduan dibawah bendera Kolonial Belanda dengan Nama NIPV (Nederlandsch Indische Padvinders-Vereeniging). Pertama kali kepanduan didirikan di Batavia tahun 1912 dibawah pengawasan NPO (Nederlandcsh Padvinders Organisatie). Namun organisasi ini hanya untuk anak-anak keturunan Eropa. Sedangkan di organisasi kepanduan yang anggotanya hanya anak-anak Bumi Putra pertama kali ada di Solo, Jawah tengah pada tahun 1916 oleh A.A Mangkunegoro VII.

Sehingga kita tidak bisa menutup mata, bahwa asal mula dari Gerakan Pramuka dibidani oleh NIPV yang dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda. Dan karena kebijakan pemerintah kolonial lah di Belanda di perbolehkan berdirinya oraganisasi Kepanduan. Sehingga berdampak hampir setiap organisasi yang ada pada masa itu memiliki wadah kepemudaan (kepanduan) seperti organisasi Pemuda Muhammadiyah. Namun, perjalan kepanduan Indonesia tidak selamanya mulus, kepanduan-kepanduan Indonesia mengalami pasang surut bahkan pemerintah kolonial Belanda juga sering melarang pergerakan organisasi ini lantaran ada gerakannya yang mencurigakan alhasil organisasinya pun dibubarkan. Hingga masuknya Jepang (1942) ke Indonesia yang ditandai dengan berakhirnya pemerintahan kolonial Belanda. Pada masa kependudukan Jepang berlangsung, Jepang menerapkan kebijakan yang kurang bijak, yakni semua organisasi kepanduan masuk kedalam organisasi yang dibuat oleh pemerintah Jepang seperti Jawa Hokakai, Putera, dll.

Hingga akhirnya Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961 yang disahkan oleh pemerintah. Niatan akan mendirikan organisasi yang menyatukan semua kepanduan di Indonesia didasari karena adanya rencana tentang pembangunan Nasional Semesta Berencana yang dicanangkan pada tanggal 3 Desember 1960. Sejurus waktu bulan April 1961, keluarlah Keputusan Presiden RI Nomor 121 Tahun 1961 tanggal 11 April 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota Panitia ini terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial). Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka. Dan pada tanggal 14 Agustus 1961 dianugrahkannya panji-panji kebesaran Gerakan pramuka yang menandakan kelahiran Pramuka.

Segenap Problematika

Ada sebuah pribahasa yang artinya Lain dulu lain sekarang. Setiap jaman memiliki karakternya masing-masing. Sekian lamanya Pramuka ini ada di Indonesia bukan berarti organisasi ini adem ayem, walaupun Pramuka didukung oleh pemerintah. Permasalahan permasalahan tersebut tibul bukan karena masih ada pemerintah kolonial ataupun dilarang. Namun permasalahn tersebut datang dari dalam Organisasi itu sendiri. Apalagi sekarang dengan campur tangan pemerintah ke Pramuka berimbas diwajibkannya Pramuka di setiap sekolah-sekolah, hal tersebut menimbulkan polemik masalah tersendiri.

Pramuka boleh bangga, pasalnya Pramuka adalah salah satu Organisasi terbesar di Indonesia ditambah lagi sebagai salah satu Organisasi yang Anggaran Dasarnya di tanda tanggani oleh President. Disamping itu Pramuka juga memiliki wadah persaudaraan Internasional di bawah Wosm (The World Organization of the Scout Movement). Organisasi ini sering mengadakan acara yang mempertemukan negara-negara yang tercatat ada pramukanya, nama kegiatan ini sering kita dengar dengan sebutan Jamborre .

Ternyata buah jatuh dari jauh dari pohonya. Fenomena yang terjadi belakangan ini terkait organisasi pramuka memperoleh raport jelek. Apakah yang membuat cacatan jelek tersebut? setelah dipahami, amino pemuda Indonesia terhadap gerakan Pramuka amat rendah. Penulis mendapatkan informasi terkait dengan banyaknya anggota Pramuka yang keluar atau bolos ketika latihan Pramuka, alasan mereka beragam ada yang berpendapat latihanya membosankan, tidak menarik, jadul, dll. Berbagai alasan ketidak sukaan mereka terhadap pramuka, bahkan ketika akan latihan mereka sering kali membuat bebagai alasan agar tidak ikut latihan.

Belum lagi masalah pakaian, akhir-akhir ini terjadi pembahasan di pemerintahan tertinggi Pramuka yang dikenal dengan Kwarnas (Kwartir Ranting Nasional), yang dipusingkan dengan membuat seragam baru Pramuka yang tidak ketinggalan Jaman. Kemudian ada juga anggota pramuka yang sampai sekarang masih aktif namun mereka sempat mengeluhkan karena porsi materi yang tidak Up-Date, terkadang juga kita masih menemui banyak permasalahan Pramuka yang sudah memiliki tingkatan paling tinggi seperti Penegak dan pandega masih diberi materi tepuk-tepukan, permainan, dan Nyayian Pramuka. Serta masih banyak lagi komentar-komentar miring terhadap Pramuka dari kadernya sendiri. Namun, jadikanlah ini menjadi suatu perbaikan untuk kedepanya. Sebenarnya Pramuka sangat tepat sebagai wadah pendidikan non-formal untuk membangkitkan gairah nasionalisme yang ditanamkan sejak di usia muda.

Jalan Keluar dari Masalah

Mencoba untuk mencari jati diri, mencoba untuk berkontribusi. Selayaknya sebagai organisasi terbesar di dunia yang diakui dan disahkan oleh pemerintah bisa memberikan dampak positif persatuan bangsa. Pramuka memberikan pembelajaran yang positif pada peserta didiknya. Dengan peraturan yang sudah terlajur disahkan oleh President dalam UUD RI No 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka selayaknya ini menjadi perhatian penuh untuk dikembangkan dan diperbaiki pengelolaanya.

Pada dasarnya organisasi Pramuka memiliki kode etik dan moral pramuka yang sering disebut dengan Dasa Dharma dan Trisatya Pramuka, sejak SD kita mengenal pramuka bahkan seorang pembina sering menyuruh peserta didiknya untuk menghafalkan Dasa Dharma pramuka. Begitu luhur dan besarnya nilai-nilai yang dikandungnya. Semestinya seorang pembina harus dibekali dengan pemahaman Dasa Dharma dan Trisatnya.

Jika kita kaji, kode etik tersebut masih nampak relevan untuk digunakan pada masa sekarang, tinggal bagaimana kita mengemas kegiatan tersebut yang didasari dari Dasa Dharma. Misalkan; Takwa pada Tuhan Yang Maha Esa. Jika kita tilik dari redaksinya, nampak hanya kata-kata yang lajim terdengar, namun aplikasinya kosong. Bukan Pramuka namanya jika tidak mengamalkan Dasa Dharma tersebut.

Hanya yang menjadi masalah adalah sejauh apa kita paham dan tahu bahwa peserta didik kita telah menjalankan Dasa Dharama tersebut teutama Takwa pada Tuhan Yang Maha Esa. Masalah amalan adalah hanya Tuhan yang tahu. Tidak ada indikator yang jelas. Namun jauh dari sekedar redaksi belaka pemahaman itu diaplikasikan dengan suatu kegiatan. Jauh dari pemahaman awal pramuka yang hanya kegiatan latihan. Dasa Dhrama juga bisa dijadikan sebagai latar belakang suatu kegiatan. Untuk point nomer satu, bukankah kita bisa mengadakan kegiatan keagamaan sebagai bentuk atau wujud dari Takwa pada Tuhan Yang Maha Esa atau menunda sebentar kegiatan atau latihan untuk melaksanakan shalat bagi umat Islam, bukankah merupakan aplikasi paling sederhana untuk diterapkan. Hal-hal ini lah yang mesti kita pahami dan sadari, Itu baru satu Point sedangkan masih tinggal sembilan point lagi yang bisa kita terapkan dalam pramuka. Maka penanaman nilai-nilai ini amat penting tidak hanya nasionalisme saja pendidikan karakter pun bisa. Sehingga, anggota pramuka memiliki jiwa berbudi luhur. Dengan demikian dipastikan pramuka mendapatkan kembali anggotanya dan mendapat dukungan dari para orangtua.

Pramuka sebisa mungkin dapat menyesuaikan jaman, sekarang ini kepekaan sosial dan lingkungan amat diperhatikan. Seperti kasus Global Warming (pemanasan global) yang lagi rame dibahas. Maka pramuka sebagai organisasi yang memiliki anggota pemuda terbesar didunia ikut berperan dalam mengkampanyekan dan ikut serta dalam menjaga kelestarian alam. Pembina Pramuka yang memiliki fungsi sebagai tenaga pendidik dapat menanamkan kecintaan serta ilmunya dengan belajar langsung ke lapangan. Metode perkemahan masih layak diterapkan untuk mendekatkan peserta didik dengan alam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar